Demi(Kian) Aku Rela

July 15, 2016



CERPEN
Oleh : Rhialita

Sore itu, di halaman gedung minimalis berlantai tiga, aku memarkirkan mobil. Gedung ini memiliki tempat parkir lumayan luas, dan taman kecil di samping gedung. Aku keluar dari swift ungu, kemudian menuju ke bagasi mobil untuk mengambil gitar. Aku sengaja datang satu jam lebih awal, tetapi aku tidak melihat satpam di pos penjaga, padahal pagar sudah terbuka, ah mungkin sedang ke toliet pikirku. Aku berjalan menuju pintu utama, tetapi langkahku terhenti, aku melihat seseorang yang sebelumnya tak pernah kulihat. Lelaki itu bertubuh tegap, mengenakan sweater abu-abu, dan membawa gitar dipunggungnya turun dari motor sport berwarna merah. Aku melihatnya dari jarak yang agak jauh. Aku melanjutkan langkahku menuju lobby. Begitupun dia. Aku mendekatinya. Memandang matanya yang berbinar, seperti mengisyaratkan sesuatu dibaliknya. Dia terlihat kebingungan. Aku hendak bertanya apa dia perlu bantuanku. Atau aku hiraukan saja dan terus masuk ke dalam? Akhirnya kuputuskan untuk bertanya.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku padanya. Aku terdiam sesaat. Dia tampan, gumamku dalam hati.  Pemuda itu menatapku dan bertanya.

“Bagian administrasi ruangannya di sebelah mana ya? Tadi saya ke pos satpam mau tanya tapi ngga ada orang.” Ia terlihat canggung. Tanpa basa-basi aku menunjukkan arah bagian administrasi  yang dia tanyakan. 

“Oh ya, satpamnya mungkin sedang ke toilet. Kalau ruangannya di sana, tapi jam segini belum ada orangnya, mungkin setengah jam lagi. Tunggu saja dulu.”

“Terimakasih ya.” katanya dengan senyum mengembang, aku mengangguk dan membalas senyum seadanya. Kemudian pergi meninggalkannya.

***
Suasana kelas hari ini terlihat sama, tetapi memang ada beberapa murid yang tidak masuk kursus hari ini. Aku duduk di kursi biasanya, di dekat jendela. Tempat duduk di sini di susun sedemikian rupa agar semua murid dapat saling melihat satu sama lain. Ada sepuluh kursi di dalam kelas yang diletakkan satu baris berjumlah lima buah kursi berhadapan. Setahuku murid yang rutin dan memang terdaftar di kelas ini hanya ada delapan orang, jadi dua kursi lainnya kosong.
Mentor gitarku membuka kelas hari ini, tak lama ada seseorang yang mengetuk dari balik pintu, dan membukanya. Dia adalah pemuda itu, yang kemarin menanyakan ruang administrasi. Masih kuingat wajahnya teduhnya. Dia mengucapkan salam. Kemudian mentor gitarku, Kak bayu menyuruhnya masuk. Sekarang pemuda itu berdiri di depan kelas berdampingan dengan Kak Bayu. Dia memperkenalkan diri, dan dia berhasil mencuri perhatianku. Laki-laki itu mengucap satu nama.

"Perkenalkan saya Kian, salam kenal semua." Menurutku suaranya merdu, apa akan semerdu ini juga jika bernyanyi? Pikiran liar memenuhi kepalaku.
"Nah, teman-teman, mulai hari ini Kian akan bergabung bersama kita, untuk kursus gitar." Ucap Kak Bayu, sambil melihat ke arahku dan yang lainnya. Aku masih menatapnya, hingga dia duduk di seberang kursiku. Kursus hari ini pun berjalan seperti biasa.

***
“Hai.. maaf aku boleh duduk di sini? Tanya anak baru itu dengan sangat sopan, sambil menunjuk kursi di sampingku.
“Silahkan.. tidak ada yang melarang.” Aku mengangguk, menepuk kursi disebelahku, sambil kubalas senyum paling manis di ujung ucapanku. 

Kian pun duduk, memegang gitar hitamnya, sekilas aku melihat stiker huruf K dibadan gitar miliknya, mungkin itu inisial namanya. Aku masih sibuk dengan gitarku sendiri sambil melihat buku panduan bermain gitar, tetapi kini rasanya sudah tidak fokus lagi, entah mengapa lelaki yang satu ini bisa membuatku salah tingkah. Sebenarnya aku ini kenapa? Suara itu mulai menggangguku lagi.

“Hei siapa namamu? Kita belum berkenalan. kamu pemula ya?” dia menatapku, begitu juga aku sebaliknya. Aku menganggukkan kepala. Aku merasakan gugup, canggung, namun berusaha tetap terlihat tenang. Kian menyodorkan tangan yang kusambut dengan hangat.

“Aku Nada.. iya, aku pemula, untuk isi waktu luang di luar jam kuliah. Kalau Kamu?” aku balik bertanya. Dia balas dengan senyum yang mengembang membuat lesung dipipinya terlihat, menyejukkan. Aku mulai terpesona.

“Aku sudah belajar dari kelas 4 SD..” Jawabnya sambil setengah tertawa yang terdengar dipaksakan, ada rasa canggung yang terpancar darinya. Namun tetap menarik bagiku.
“Wah.. jadi?? terus kenapa kamu ingin kursus di sini lagi?" ujarku heran.
"Ingin lebih mahir aja.." ujar Kian singkat.

***
Langit Bandung tampak cerah, burung-burung masih mengepakkan sayapnya, dan aku masih dapat bernapas bebas. Masih sama. Hanya perasaanku yang berubah. Lebih tepatnya karena dia. Dua bulan berlalu, aku dan laki-laki berwajah teduh itu semakin akrab. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu bersamanya sepulang kursus. Dia banyak bercerita mengenai kehidupannya. Kian seorang laki-laki yang sangat mandiri. Sejak balita dia tinggal bersama neneknya. Ayah dan Ibunya bercerai, keduanya pun sudah memiliki keluarga baru masing-masing, Kian tetap memilih tinggal dengan neneknya.
Walaupun neneknya orang yang berkecukupan, Kian tidak pernah meminta macam-macam. Hanya Neneknya keluarga satu-satunya yang dia miliki. Tetapi semenjak Kian kuliah, Neneknya sakit-sakitan dan belum lama Neneknya menyusul suaminya yang juga telah tiada. Untuk menghidupi dirinya sekarang Kian kerja paruh waktu sambil kuliah. Kadang dia menyalurkan hobinya dari panggung ke panggung dan menghasilkan honor yang lumayan. Tujuannya saat ini hanyalah bisa mandiri dan sukses dengan jerih payahnya sendiri.
***
“Begitu ceritanya..” Aku hanya bisa memandangnya selama Kian bercerita tentang kehidupannya. Menopangkan daguku di sisi gitar yang kupegang. Tidak kusangka Kian orang yang sangat ramah.

Kawanan air dari langit mulai datang, membuat kaca jendela mulai berembun, dan menyambut kami yang sedang asik bercengkrama. Namun orang yang ada di hadapanku ini lebih memesona dari pada kawanan itu. Mereka hanya bisa melihat kami dari luar jendela. Mungkin saja kawanan itu sedikit menguping percakapan kami. Suasana yang bisa dibilang romantis. Kian berhenti bicara, aku masih memandangnya. Tangannya menghampiri pundakku, dan menepuk pelan-pelan, menyadarkanku akan kekaguman yang sejenak membuatku lupa dengan apa yang aku dengar. Dia juga membuatku sadar, bahwa setiap manusia boleh dan berhak jatuh cinta. Untuk waktu yang cukup lama. Saat ini, aku mulai merasakannya lagi.

 “Makasih ya, sudah antar ke rumah.” Ujarku sambil melepaskan helm yang aku pakai.
“Iya, sama-sama nada. Maaf ya, kamu jadi basah kuyup, aku hanya punya motor” Dia tertawa kecil diujung ucapannya.
“Tidak apa-apa, ini lebih dari cukup, aku yang merepotkanmu. kamu hati-hati ya” Ucapku lagi.
"Sampai jumpa besok ya." Ujar Kian yang mulai siap bergegas pulang. Aku melihat kepergiannya sampai titik terkecil di ujung jalan, kemudian menghilang.

***
Betapa kehadiran cinta untuk seseorang tidak dapat dicegah. Kemurnian rasa tulus mencintai akan mengalahkan segala bentuk perusak yang datang. Namun apakah setiap cinta dapat diungkapkan? Tentu saja iya, bahkan mungkin tidak sama sekali. Butuh nyali yang besar untuk dapat mengutarakannya. Bahagialah yang akan terpancar dari raut wajah seseorang yang sedang dibumbui rasa cinta, jika rasa itu diterima dan mendapat pengakuan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Tetapi sebaliknya, kesedihan bahkan tangis, dan rasa sakit hati yang mendalam jika semua itu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan untuk sebuah pengorbanan cinta.Posting”

Pikiranku mulai kacau, perasaan hatiku berkecamuk antara ya atau tidak. Aku hanya ingin mengungkapkan bahwa aku menyukainya, mendengarkan ceritanya, kehidupannya, menampung keluhannya, dan bermain gitar bersamanya sepanjang waktu. Tetapi aku takut rasa ini tidak terbalas. Aku mencurahkan apa yang aku rasakan ke dalam sebuah tulisan, dan mempostingnya di blog. Terlintas wajahnya yang tersenyum di benakku. Bahkan sesekali berani menampilkan wajah sendunya di layar laptop di hadapanku. Entah keinginan darimana tanpa sadar aku membuka akun twitter-ku, melihat apa ada yang menarik di sana. Jemariku  mengarahkan mouse ke kolom pencarian, aku mengetik pada keyboard nama itu. Satu nama yang selalu membayangiku beberapa bulan kebelakang. Ternyata baru beberapa menit yang lalu Kian memosting di twitter.


 @Kianajisaka
Aku merasa nyaman di dekatnya, dan sepertinya aku akan mengatakannya.

Jantungku berdebar tak biasa. Mataku membelalak lebar, bibirku gemetar. Rasanya bercampur aduk jadi satu. Apakah ini pertanda supaya aku mengatakannya? Bahwa aku menyukainya? Oh Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? Aku menepuk-nepuk pipiku. Pikiranku  mulai terlalu jauh. Belum tentu apa yang dia ungkapkan di media sosial itu untukku? Bisa saja perempuan lain? Aku sudah melayang di angkasa dan terkejut setengah mati. Ah, lupakan! Gumamku. Mataku mulai perih, aku mematikan laptop diatas meja belajarku. Mencoba lebih santai dengan situasi ini. Aku beranjak dari kursi dan meluncur ke atas tempat tidur. Menarik selimut, membungkus tubuhku sampai batas leher, memposisikan diriku senyaman mungkin.  Sambil merebahkan tubuh karena kelelahan, aku mengambil ponselku yang berdering. Siapa yang malam-malam begini telpon? Pikirku heran. Tetapi keherananku bertambah, setelah aku tahu siapa yang menelepon malam itu.

Kian Memanggil...

“Hallo.. Nada?”

“Iya? Kian? Kok tumben malam-malam gini telfon? Ada apa? Tidak biasanya?”

“Aku cuma mau tanya, apa benar kalau kita menyukai seseorang itu harus segera diungkapkan? Kalau kita takut ditolak gimana? aku habis baca blogmu tadi.”

Terdengar tawa kecil dan sedikit perasaan khawatir di ujung telpon. Aku semakin bertanya-tanya, hatiku bergejolak lagi. Setiap kata yang dia lontarkan seperti memberikan sinyal  padaku. Bibirku terasa kelu,  aku terdiam sejenak dan menelaah apa yang ditanyakan olehnya. Aku menghela napas pelan, dan berusaha menjawab.

“Asal niat kita tulus dan tidak ingin imbalan apapun.. ungkapkan apa yang ingin kamu ungkapkan. Tapi ingat, cinta harus tanpa pamrih sekalipun kamu tidak diterima..”

***
Suara ibu yang samar-samar terdengar di telinga, membangunkan tidurku. Kali ini berbeda, ada semangat yang menempel, memaksaku untuk segera bangkit dari tempat tidur dan segera bergegas mandi, berdandan secantik mungkin, dan menyiapkan senyum semanis-manisnya. Semua itu aku lakukan untuk seseorang, yaitu Kian. Setelah percakapan semalam, aku pikir, Kian membuatku yakin bahwa aku harus mengatakannya. Aku menuruni anak tangga, menuju meja makan, terlihat Ayah dan Ibu sudah duduk di sana, aku menghampiri mereka dan bergabung untuk sarapan.
“Ada kegiatan apa sayang?” kok pagi sekali sudah siap? Tumben?” tanya Ibu sambil mengoleskan selai kacang kesukaan ayah di selembar roti tawar, dan sedikit melirik – lirik padaku.
“Ada janji dengan teman bu, di tempat kursus, kebetulan ini kan hari sabtu. Kuliah libur.”
“Sepertinya kamu jadi rajin ke tempat kursus akhir-akhir ini?” Timpal Ayah yang sedang membaca koran, namun mulai mengikuti percakapan aku dan Ibu. Aku sedikit terkejut, apa mungkin Ayah tahu tentang Kian? Tidak mungkin, Ayah kan sibuk dengan usaha propertinya, gumamku dalam hati. Aku hanya diam, dan sibuk mengunyah roti selai coklat yang kubuat. Belum selesai menghabiskan roti, ponselku bergetar, pesan singkat dari Kian. Dia sudah sampai di tempat kursus. Aku beranjak dari meja makan, mencium tangan Ayah dan Ibu, dan pamit untuk langsung pergi.
“Hati-hati nak..” Teriak Ayah, ketika aku berlari terburu-buru menuju swiftku yang terparkir di halaman rumah. Aku melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
***
Langkahku terhenti di depan pintu kelas. Aku melihat Kian menggenggam setangkai mawar merah. Aku masih berdiri di sana, mengintip dari balik pintu, melihat apa yang sedang dilakukannya. Aku melihat punggung Kian, lalu ia mengangkat tangannya, kini mawar itu terlihat lebih jelas. Dia mengucapkan sesuatu. Kian melontarkan sesuatu yang ingin sekali aku ungkapkan padanya. Tanganku mengepal, kuletakkan di dadaku yang sedikit sesak, jantungku memompa lebih cepat. Apa ini akhir perjalanan rasa yang menggantung di hatiku? Aku melangkahkan kaki dan masuk ke ruangan kelas. Sepertinya suara hentakan sepatu flatku di lantai kayu terdengar, dan mengalihkan pandangan Kian, sehingga dia tahu bahwa aku sudah datang.

“Hai Kian..” Sapaku pagi itu. Baru kali pertama aku melihat Kian berbeda dari biasanya. Dia terlihat lebih rapi, dan ceria. Tetapi teduh di wajahnya tampak selalu menghiasi, dan selalu membuatku betah berlama-lama dengannya. Belum sempat aku mendekatinya, dengan gesit dia menarik tanganku, dan memposisikan diriku di hadapannya. Kali ini aku benar-benar kehabisan kata-kata. Aku menatap matanya dalam-dalam. Dan siap mendengar apa yang akan dia katakan.

“Aku ingin mengatakan sesuatu..” Ujar Kian, dengan nada yang terdengar menggebu-gebu, seperti sudah tak sabar dengan apa yang sudah ia simpan sejak lama. Jarak ini adalah yang paling dekat setelah hampir satu tahun mengenal Kian. Jantungku berdebar semakin kencang, seperti diluar batas normal, aliran darahku terasa cepat, membuat tubuhku berkeringat, mulutku membisu, dan hanya fokus padanya. Sambil menyodorkan sekuntum mawar yang ada ditangannya, bibirnya melontarkan kalimat lagi.

“Aku mencintaimu!”

Tanganku lemas, seperti ingin pingsan saja saat itu juga, namun aku berusaha menutupi rasa terkejut yang luar biasa. Kemudian terdengar tawa kecil, yang beralih lebih keras. Aku masih melihatnya dengan kerutan didahiku, kemudian dia duduk di salah satu kursi di ruang kelas. Aku menyipitkan mata.

“Kamu kenapa? Kok tertawa? Apa ini lucu?” Tanyaku ketus, dan sedikit malu.
“Iya, kamu lucu.. wajahmu memerah, seperti habis sauna.” Sahut Kian seolah-olah berpikir.
“Kian, apa yang kamu bilang tadi itu..?”
“Gimana? actingku bagus tidak? Aku ingin ikut pemilihan aktor drama tahunan di kampusku. Sepertinya menyenangkan!”

Mendengar penjelasannya, aku serasa baru saja terbang dengan sayap peri Maleficent, dan tiba-tiba dipanah dengan busur besi hingga jatuh tak berdaya ke tanah. Ternyata itu hanya pura-pura. Aku menarik nafas sedalam-dalamnya, dan kuhembuskan pelan-pelan. Kalimat yang keluar jelas dari bibirnya masih terngiang dan menghantui pikiranku. Andai saja itu semua benar. Pasti hari ini menjadi hari paling bersejarah seumur hidupku.

***
Kami makan malam di luar. Hanya berdua. Bagiku tidak ada rasa bosan sedikutpun. Kami memilih sebuah cafe di daerah Dago. Makanan di piring kami sudah tersisa sedikit. Hanya ada makanan pencuci mulut yang belum kami santap. Aku masih  dengan posisiku, berhadapan dengannya di satu meja. Apa aku harus basa-basi, dan bertanya sesuatu tentangnya lebih dulu? Bibirku terasa kaku, aku memilih untuk diam saja. Namun, tiba-tiba suaranya memecah keheningan. Tangannya menopang dagu, sedangkan aku bersiap-siap untuk menjawab.

“Oh iya nada, kamu suka menulis di blog kan? Sepertinya kamu cocok untuk memberiku kalimat-kalimat atau nasihat tentang cinta?”
“Untuk apa?”
“Aku terpilih menjadi peran utama drama kampus tahun ini!”
“Wah, hebat! Dapat peran apa?”
“Kamu tahu? Aku dapat peran Utama! Seorang Pemuda bergitar yang merantau ke tanah orang mengejar cinta Sejatinya.  Latarnya jaman dulu gitu. Agak kuno sih.” Dia seperti memperagakan apa yang sedang diceritakan. Lucu, itulah dia. Aku tertawa kecil.
“Lalu kapan mulai latihan?”
“Besok! Dan mulai besok juga kamu harus bimbing aku agar mahir bertutur kata dengan baik ya, aku yakin, orang yang suka menulis pasti bisa menggambarkan sebuah adegan apalagi soal cinta-cintaan!”
“Tapi.. akuuu...”
“Plisss, Nona Nada Adinda Lestari yang cantik.” Raut wajahnya memelas, tangannya menggenggam tanganku. Aku mencair kembali.

Aku tidak mungkin menolak, dan tidak pernah bisa. Mungkin ini kesempatanku juga untuk lebih sering bertemu dengannya. Aku mengangguk, dan tersenyum simpul padanya. Kami pergi meninggalkan cafe satu jam setelah selesai makan. Menuju tempat parkir motor di samping bangunan cafe. Kami berjalan berdampingan, aku melipat wajahku, entah kenapa canggung menghampiri disaat yang tidak tepat. Aku hanya menunduk, sesekali merapikan syalku yang tertiup angin dingin malam itu. Sebenarnya ini kencan atau sekedar makan malam dengan seorang teman? Teman yang membuatku merasa sangat nyaman. Entah dia menyadarinya atau tidak. Tangannya menyentuh bahuku dengan lembut. Merangkulku hangat. Kami saling membisu, hanya ada tindakan. Aku bahagia, jantungku berdegup kencang, dan kali ini mungkin pipiku memerah.
***
Sepulang kursus, seperti biasa kami tetap di sini. Aku sudah mengatur semuanya. Kami, di ruangan ini hingga malam. Mas Bayu meninggalkan senyum nakal padaku sebelum meninggalkan kelas. Seperti tahu yang ada di dalam pikiranku. Aku masih memegang gitarku. Kian memulai mengajariku lagi, aku lebih cepat mahir bermain gitar berkat dia. Aku selalu suka suasana ini.

“Aku ingin mendengarmu bernyanyi dong! Anggap aja ini lagi drama. Ya ya ya” Pintaku pada Kian manja.
“Nyanyi apa? Kamu deh yang menentukan.”
“Hmm.. coba aku ingin dengar lagunya Marcel dong, judulnya terserah.”
Tanpa waktu yang lama, terdengar haming dan petikan gitar, kemudian intro lagu, firasat milik Marcel yang diiringi gitar. Suaranya bagai candu. Selalu ingin lagi dan lagi mendengarnya. Tak begitu unik, namun nyaman di telinga, lengkap dengan wajah teduhnya. Senyumku mengembang, diam-diam aku merogoh tas dan mengambil  ponselku, merekam suaranya yang sedang bernyanyi. Tanpa dia tahu. Tiba-tiba suaranya berhenti. Kian meletakkan gitar di atas meja, lalu menarik tanganku, membuat aku ikut berdiri dengannya.

“Aku ingin kita berdansa.”
“Apa? Dansa? Kamu serius?” Perasaanku naik turun, sedikit terbata-bata saat ingin menjawab iya. Tanpa menunggu jawabanku, tangannya meraih tubuhku. Kian di hadapanku, sangat dekat. Wajahku hampir menyentuh dadanya. Aku salah tingkah.
“Sudah, ini adalah bagian dari dramaku di kampus. Anggap saja kamu adalah pasangan lawan mainku di pentas nanti.”
“Musiknya mana?”
“Rasakan saja dengan hati.” Kian menepuk dadanya pelan.

Aku hanya mengangguk. Pipiku terasa panas, mungkin juga karena sedikit merona akibat salah tingkah tadi. Senyumku mengembang lagi, aku mendongakan kepala, melihat wajah tampannya yang teduh. Kurasakan jemarinya menyentuh pinggangku, tangan satunya menggenggam tanganku. Seperti bersatu, namun tanpa kejelasan status. Aku hanya menikmati momen ini. Perasaan ini semakin memuncak. Aku ingin memeluknya. Tetapi kuurungkan niatku. Aku tidak ingin merusak suasana ini dengan tindakan nekatku. Aku mengikuti langkahnya. Berdansa layaknya seorang pangeran dan putri kerajan.

***
Malam demi malam berganti. Masih ku ingat raut wajah teduhnya, lesung pipi yang menawan dan mata sendunya yang memikat. Setiap kali memandangnya aku menjadi lemah tak berdaya. Apalagi suara merdunya, membuatku selalu ingin bersamanya setiap waktu. Aroma tubuhnya semerbak seperti wangi yang tak dapat kusamakan dengan aroma lainnya. Jika aku menghirup aroma itu, aku pasti sudah tahu siapa pemiliknya. Di tempat kursus gitar inilah kami pertama kali berkenalan.
Aku masih termenung menatap kawanan air yang turun malam itu, membayangkan bagaimana waktu itu saat gosip hubungan istimewa dengannya setiap hari menerpa dari mulut teman-teman kursus. Aku tidak mengelaknya, aku ingin gosip itu menjadi sungguhan. Dia pun tidak menyangkal atau mengomentarinya. Apa yang ada dipikirannya saat itu aku tidak tahu. Dia hanya tersenyum simpul saat gosip itu datang menggerayangi telinganya. Menimbulkan banyak tanya di dalam pikiranku dan membuat relung hatiku bergejolak.
Semuanya sudah berubah. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Suara merdu itu selalu memenuhi ruangan ini selama kurang lebih satu tahun, tetapi tiga bulan terakhir ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku bertanya pada mentor gitarku mengenai Kian. Katanya dia hanya ingin berhenti kursus karena ada urusan, itu saja. Jawaban yang tidak membantuku sama sekali untuk menemukannya ataupun tahu dimana dia berada sekarang. Ponselnya pun tidak aktif. Hanya penyesalan yang membekas dihatiku saat ini. Bersamanya di sepanjang waktu kursus itu sudah cukup. Tetapi sekarang, ketika dia menghilang entah kemana, aku ingin dia ada di sini, melihatku memainkan gitar, dan melantunkan lagu kesukaannya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah mahir memainkan gitarku. Aku ingin menunjukkannya padamu. Dan aku ingin mempersembahkan lagu ini untukmu. Karena aku mencintaimu.
***
Tampaknya hujan semakin deras, belum ada tanda-tanda kalau Ayah sudah sampai. Hari ini aku sedang malas menyetir sendiri. Aku meminta Ayah untuk menjemput ke tempat kursus, dan Ayah pun tidak keberatan. Mataku menatap gitar yang tadinya kuletakkan di sampingku. Aku mengambilnya, menaruhnya di atas pangkuanku. Aku mulai menggerakkan jemariku, memainkan kunci gitar yang sudah kuhafal di luar kepala. Sambil memetik senar gitar, aku mencoba menyanyikan lagu yang pernah Kian nyanyikan. Firasat, sepertinya lirik lagu ini memang cocok melukiskan perasaanku.
Di ruangan ini hanya ada aku seorang, murid yang lainnya sudah pulang, atau sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sangat leluasa bernyanyi, soal suara bagus atau tidak, aku tidak peduli. Kuresapi setiap bait lagu yang aku nyanyikan, seakan sosoknya ada di sampingku. Tanpa kusadari butiran air mata  yang membendung itu jatuh membasahi pipiku. Rindu yang kusimpan rapat-rapat akhirnya meluap juga. Aku hentikan nyanyianku, tanganku lemas, jemariku kaku, rasanya ingin meluapkan rasa yang tidak dapat aku ungkapkan hingga saat ini.
Rasanya lebih sakit, sesak di dalam dada, membuat aliran darah terasa beku karena tertahan oleh kebisuan. Aku mengatur napasku, karena tangis ini hampir membuatku terisak. Aku harus kuat! Aku tidak boleh cengeng! Jeritku dalam hati. Mungkin Kian bukan yang terbaik untukku, Tuhan lebih tahu. Tetapi apakah aku salah? berdoa dan meminta kepada Tuhan bahwa aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku akan melupakannya, beri aku kesempatan untuk mengungkapkannya sekali saja. Aku mencoba meredam emosiku, memejamkan mataku sejenak. Berusaha menghadapi kenyataan.

“Nada.” Suara paruh baya itu membuyarkan lamunanku.
“Ayah, sudah sampai.” Aku mencoba tidak memperlihatkan kesedihanku pada Ayah, aku mengusap air mataku cepat-cepat, dan menunjukkan raut wajah seceria mungkin.
“Kamu kenapa?” tanya Ayah khawatir dan penasaran dengan anak bungsunya ini. “Kamu habis menangis? Matamu merah dan sembab nak, ada apa? Cerita pada Ayah.” Lanjut Ayah, yang sepertinya memang tahu kalau anak bungsunya ini memang sedang tidak baik-baik saja.
“Tidak apa-apa Ayah, aku hanya mengantuk jadi matanya berair, habis dari kampus pagi tadi kan aku disini.” Jawabku seadanya, sambil berusaha menebar senyum semaksimal mungkin.
Ya, memang tempat kursus ini sudah seperti rumah keduaku, selesai kuliah aku selalu menyempatkan diri kesini untuk melancarkan permainan gitarku. Aku dapat sesuka hatiku kesini, kapan saja, karena tempat kursus sederhana ini memang dibangun oleh kakakku, Gilang. Sekarang dia meneruskan kuliahnya di Jerman, sambil menjalankan bisnis yang ia dirikan sendiri juga di sana. Kak Gilang memang mandiri dan dewasa. Kak Gilang lah yang menjadi salah satu inspirasiku untuk bisa bermain gitar. Kalau soal Gitar, Kak Gilang juara. Murid-murid disini juga tidak ada yang tahu, kalau aku adalah adik dari pemilik tempat kursus ini, termasuk Kian. Hanya para mentor di sana yang sudah kuberitahu untuk merahasiakannya, aku tidak ingin mereka menganggapku istimewa. Aku ingin disamakan seperti murid yang lainnya di kelas. Hanya soal waktu saja yang diperuntukkan untukku memang lebih banyak dari yang lainnya.

“Yasudah, yuk kita pulang, sudah malam.” Ujar Ayah sambil mengusap kepalaku dengan lembut.

Aku bergegas merapikan gitar akustik kesayanganku ke dalam tempatnya. Dan beranjak dari kursi untuk lekas pulang bersama Ayah. Aku menuju tempat dimana Ayah memarkirkan mobilnya. Aku masuk ke dalam sedan biru dongker. Walaupun umur mobilnya sudah cukup tua, namun masih nyaman untuk berada di dalamnya. Ayah orang yang apik dalam merawat semua barang yang ia punya. Termasuk mobil kesayangannya ini. Baru beberapa detik Ayah menjalankan mobilnya, pandanganku tertuju pada seseorang yang aku lihat dari kaca spion mobil di sisi kiriku. Menggunakan helm tertutup, dan mengendarai motor. Aku membuka kaca mobil, menolehkan kepalaku keluar kaca mobil untuk melihat seseorang itu dari kejauhan. Orang itu dengan cepat memutar arah, dan pergi. Di sana sedikit remang, jadi aku tidak begitu jelas melihat. Namun aku rasa, itu bukan siapa-siapa, akupun mengabaikannya.

“Ada apa nak?” Tanya ayah sambil menyetir. Mungkin Ayah masih bingung dengan apa yang aku lihat. Aku menoleh ke arah Ayah, aku meyakinkan pada Ayah bahwa tidak ada apa-apa, untuk kesekian kalinya aku menggelengkan kepalaku. Padahal di dalam pikiranku sekarang berkeliaran tentang seseorang yang baru saja mengalihkan pandangan.
***
Suasana kelas sepi. Hari ini memang tidak ada jadwal kursus. Aku meminta izin untuk memakai ruangan seharian. Berdiam diri saja di rumah rasanya suntuk. Ayah sedang ada pekerjaan di luar kota, Ibu pun ikut menemani. Tawaran Ayah untuk ikut dengan mereka aku tolak. Aku hanya ingin sendiri. Belajar untuk membuang rasa yang sudah lama terpendam. Dan mereka sepertinya mengerti. Entah dari sisi apa mereka melihatnya. Aku membuka jendela.
Kucermati pohon-pohon menari riang disambut angin sore yang berhembus entah dari arah mana. Rambut ikalku terurai. Kuhirup udara kota kembang yang sejuk sore itu. Segar, masuk ke rongga pernapasanku. Membuat dadaku lebih lega. Sesakku sedikit menghilang. Aku masih berharap akan ada waktu untuk sekedar mengatakan bahwa selama ini aku menyukai, bahkan mencintai Kian. Jodoh manusia tidak ada yang tahu. Namun apa jadinya jika Kian mendengar aku menyukainya lebih dari sahabat? Tak dapat kubayangkan.
Mataku terpejam. Membayangkan wajahnya. Aku menghela napas, berulang kali kuhirup udaranya, dan aku buang perlahan. Tiba-tiba aroma itu tercium olehku, ciri khasnya. Aku masih berdiri menghadap jendela, meyakinkan bahwa aku hanya berkhayal kalau dia ada di sini, saat ini, di ruangan ini. Aroma itu ternyata tidak hilang, justru semakin menusuk hidungku. Wangi yang kukenal dan selalu aku ingat. Aku berusaha meyakinkan diriku.
Aku membalikkan badan ke belakang. Kemudian aku mematung, air mataku terbendung di sudut kantung mataku yang sedikit menghitam. Senyumnya mengembang di depan pintu. Menyapa dan memanggil namaku, dia mulai berjalan mendekatiku. Rasa itu datang lagi. Namun kali ini bercampur dengan rindu yang teramat sangat. Rindu yang tertahan setiap hari. Membuat sesak di dalam dada, hingga mengubah nafsu makanku menjadi berkurang.
“Maaf aku tidak sempat memberi kabar, ponselku hilang. Dan aku tidak mencatat nomormu. Aku sangat sibuk selama tiga bulan ini. Kemarin malam aku kesini, tetapi tempat kursus sudah sepi. Kebetulan kamu ada sekarang. Karena aku yakin kamu kesini walaupun hari ini kursus libur.” Ujar Kian yang terus berusaha menjelaskan kepergiannya selama ini. Ternyata benar, sosok yang kulihat kemarin malam mungkin adalah Kian. Aku hanya tersenyum dan tidak membahasnya. Aku tidak memotong ucapannya. Aku ingin memandangnya puas-puas. Dengan jarak seperti sekarang.

“Kamu apa kabar?” Tanyaku lembut. Singkat, dan hanya itu yang aku ingin tahu. Walaupun aku sebenarnya heran dan juga khawatir
“Aku baik sekali Nada.. aku juga yakin kalau kau baik-baik saja. Oh iya aku ingin menunjukkan sesuatu padamu! Ini Kejutan.” Aku tersenyum, walaupun sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Lalu, apa aku akan terkejut seperti beberapa bulan yang lalu? Seperti saat dia pura-pura bilang mencintaiku? Kemudian menghilang begitu saja tanpa kabar? Gumamku dalam hati yang menjerit. Aku memaksakan tersenyum lagi. Dan mencoba ingin tahu kejutan apa yang akan dia tunjukkan padaku. Aku rasa hari ini adalah yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Mungkin. Aku hanya ingin jujur. Itu saja.

Tangannya menelusup ke balik jaket kulitnya. Kian menunjukkan raut wajah begitu bahagia. Sesuatu diambil dari balik jaket itu. Sebuah surat, tampaknya seperti itu. Aku ragu, tangan kirinya menggapai tanganku, surat itu diletakkan di atas telapak tanganku. aku melihatnya dengan jelas. Bukan surat, tetapi sebuah undangan yang tampak minimalis, dengan dasar krem berbalut pita berwarna coklat muda. Warna yang lembut. Tertera inisial K&K. Aku tak perlu membukanya, itu pasti hanya akan membuatku banjir airmata, aku tidak ingin. Dan perkiraanku pasti benar. Aku masih menahan bendungan air di mataku.

“Maaf  aku baru memberitahumu, kejutan ini untuk kamu sebagai sahabat dan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Kian tersenyum lebar. Lalu melanjutkan ucapannya. “Namanya Kania, dia sangat baik, cantik, dan aku selalu bercerita tentangmu padanya, kamu harus datang ya, janji! Nanti akan aku kenalkan kamu dengan Kania. Dia pasti sangat senang.”

Mungkin inisial huruf  K yang tertempel selama ini di gitarnya juga adalah Kania. Untungnya pagi ini tidak turun hujan, kalau iya, mungkin itu akan menjadi latar kesedihanku yang cocok sekali untuk saat ini. Aku berusaha tenang, dan menatap mata laki-laki yang selama ini aku kagumi, bahkan cintai, senyumnya mengembang menghiasi wajahnya. Aku tahu dia sangat bahagia, dan membagikan kebahagiaannya padaku. Aku berusaha untuk ikut bahagia, walaupun sangat sulit. Rasanya ingin cepat pergi dari hadapannya. Ternyata selama ini kesibukannya adalah mempersiapkan pernikahan, dan mungkin masih hingga saat ini. Hatiku terluka. Dadaku terasa sesak kembali, kali ini lebih sesak sepuluh kali lipat. Aku menggigit bibir, menahan gumpalan air mata yang masih membendung disudut mataku.

Tubuh tegapnya semakin mendekat. Tangannya menyentuh bahuku, kemudian memelukku erat. Baginya ini mungkin pelukan terimakasih kepadaku sebagai sahabat yang sudah setia menemaninya selama ini. Mendengarkan perjalanan hidupnya dan memberinya banyak nasihat tentang cinta. Tidak lebih. Pipiku menempel di dadanya. Hangat, aroma tubuhnya membuatku ingin terus berada didekatnya. Tapi itu tidak mungkin. Perlahan tangis yang aku akui tangis bahagia akhirnya keluar, air mata itu mengalir deras membasahi jaketnya. Aku tidak peduli dia menyadarinya atau tidak. Sudah kuputuskan, ungkapan cinta yang kusimpan selama ini untuknya akan kubuang jauh-jauh. Dalam diam, Ini adalah pelukan pertama, dan terakhir selama kami menjadi sahabat. Cukup tanpa pengakuan apapun. Tuhan mempertemukanku dengan Kian pasti ada maksud tersendiri. Dari awal pertemuan manis kami, kuakhiri dengan satu kalimat yang sanggup kucapkan padanya.

“Selamat ya, semoga kamu bahagia..”

-Selesai-

Copyright 2016







Stylist : Rhialita
Natural make up : Rhialita
Concept : Rhialita


Photo : Adam Fajari

You Might Also Like

0 komentar

Rhialitage