The Clarity

November 27, 2016

Untuk kesekian kalinya mengucap syukur kepada Allah SWT karena sudah menyelesaikan satu langkah menuju tanggung jawab selanjutnya. Apa itu? Suatu sebutan yang mudah dibayangkan namun tidak mudah dilakukan. Tidak semua orang juga bisa melalui ini. Apalagi kalau bukan yang namanya kuliah dan menyelesaikan Skripsi/Tugas Akhir. Sampai saat ini masih berasa mimpi bisa melalui itu semua.

Awalnya sempat terpikir ingin buat mandiri aja, tapi setelah berulang kali dipikir lagi, bakalan lebih sulit. Akhirnya bertemulah dengan mereka Ardis dan Tifa yang punya keinginan sama. Kami sepakat untuk membuat tugas akhir bareng, dan buat kelompok bertiga. Mulai dari menentukan tugas masing-masing, rapat, membuat ide, konsep, riset, wawancara, editing yang bikin mata bengkak dan pegel-pegel, sampai preview dan terakhir melalui sidang skripsi yang ternyata engga seseram yang dibayangkan! Benarkah? :O


Membuat tugas akhir itu memang susah engga susah. Terkadang rasa malas yang nempel, sulit banget dilawan. Belum lagi kalau tiba-tiba sakit melanda di hari H mau liputan. Untungnya aku punya tim yang solid, mungkin karena dari awal kami sama-sama sewaktu magang di radio, jadi makin dekat pas nyusun skripsi yang juga formatnya radio. Saling bantu, saling ngerti, saling nutupin, saling kesal, saling beda pendapat, pokoknya saling semuanya, yang kayaknya beda dengan kelompok biasanya. Tapi itu yang bikin kita dekat! Kita jujur satu sama lain.


Tugas akhir yang kami buat adalah mengenai Dokumenter Radio Nostalgia, dengan judul Alunan Si Hitam Merdu, dalam program Klasik Indonesia. Di dalamnya berisikan mengenai perkembangan Piringan hitam di Indonesia dari zaman ke zaman, lalu tentang kolektor piringan hitam di Yogyakarta, lagu-lagu tempo dulu, sampai eksistensinya di masa kini yang masih ada penyanyi yang membuat albumnya menggunakan format piringan hitam.


Tujuan dari karya ini adalah, agar generasi terdahulu dapat mengenang kembali piringan hitam, yang merupakan salah satu penunjang berkembangnya musik indonesia, karena merupakan alat perekam suara pertama di dunia. Serta, setidaknya jika memang tidak bisa dibuat lagi, sebagai generasi muda, kita juga perlu tahu sejarahnya, lagu-lagu anak negeri, dan melestarikannya dengan cara merawatnya. Ini benar-benar original karya kami, yang kami buat dengan riset, dan konsep sendiri. (Jangan dicontek ya!! Nanti bisa kami tuntut kalau jiplak!!)


Di Hari H sidang, masing ingat banget karena tanggalnya bagus. 8-8-16! Hari itu aku dan mereka ngerasa jadi beda, lebih percaya diri dan berani. Engga ada sama sekali yang namanya gemeteran. Dosen pengujinya juga memerhatikan kami dari awal sampai akhir, dan engga pernah dipotong sampai selesai karya ditampilkan. Ibaratnya waktu itu benar-benar punya kami banget. Evaluasinya juga santai, dan kami ajaibnya selalu bisa jawab, malah kami sampai saling bantu satu sama lain. Diakhir, salah satu penguji bilang kalau kita dibilang tim paling solid, kelihatan dari awal presentasi, sampai evaluasi, konsisten dengan konsep serta karya yang dihasilkan. Katanya kami menyatu. Siapa yang engga bahagia dipuji begitu. Kami bertiga nangis, waktu dengar kata “LULUS”. Ahh, itu rasanya campur aduk. Mungkin rasa terharu, dan simpati sama kami, snack yang harusnya buat penguji, mereka malah kasih buat kami, sambil jabat tangan kami memberi selamat. “Karya yang memuaskan!” katanya.



Rhia - Tifa - Ardisma

( Pengarah Acara - Penulis Naskah - Produser )





Setelah selesai semuanya, dan tinggal menunggu hari wisuda tiba. Aku punya ide buat bikin foto kenang-kenangan sama mereka. Konsepnya tetep, vintage is everywhere! Haha.. dan mereka setuju. Kebetulan suamiku photographer yang sedang meniti karir untuk menjadi profesional, dibantulah kami mewujudkan keceriaan, dan kebersamaan kami lewat sebuah gambar, yang engga akan kami lupakan seumur hidup kami.




With Love,


Rhialita





Konsep : Sweet Vintage

Judul : The Clarity

Photographer : Andre Widiyanto (IG : @Andrewdynto)



You Might Also Like

0 komentar

Rhialitage