SEPERTI MIMPI

March 21, 2020


Keluarga buatku adalah segalanya. Tempat di mana aku bisa bahagia, menangis, bahkan teman bercerita paling baik. Orang yang paling menerima kekurangan kita dan menyemangati kelebihan kita dengan tulus. Tapi tidak selamanya kita bisa bersama mereka di dunia ini. Akan ada jeda di mana kita harus merasakan kehilangan. Hal yang paling pasti, namun seperti mimpi.


Tepat di tanggal 29 Oktober 2019, kami harus kehilangan si bungsu. Adik kandungku yang berusia genap 20 tahun, 16 September lalu. Panggilannya Riri. Nama kecil yang melekat di hati dan ingatan kami. Mungkin sekarang aku sedang meneteskan air mata ketika menuliskan cerita ini. Cerita akhir tahun yang sangat menyedihkan. Dia harus pergi lebih dulu dari kami.


Ucapan ulang tahun terakhir dari aku untuk Riri di instagram. :'(

Bagian paling sedih dari cerita ini adalah saat nafas terakhirnya, aku tidak berada di sana. Ya, aku tinggal di kota yang berbeda dengan adik bungsuku. Semenjak menikah aku tinggal di Pontianak sedangkan keluarga ada di Bandung. Padahal, aku dan suami berencana ke Bandung di akhir tahun, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Nggak pernah terbayangkan ternyata sesedih ini ditinggal sama adik sendiri. Banyak banget hal yang nggak akan bisa dilupakan. Tingkah lucunya, tawanya, cerita-ceritanya, bahkan marahnya dia pun terlihat menggemaskan buatku.

Si Bungsu itu orang yang selalu curhat apapun sama aku, begitupun aku sebaliknya. Mulai dari tentang sekolahnya, kegiatannya, drama korea kesukaannya, sampai cerita soal orang yang istimewa buat dia. Aku baru sadar kalau ternyata adikku sudah beranjak dewasa. Walaupun kami LDR, kami selalu merasa dekat. Terakhir bertemu, dia masih sangat sehat. Waktu itu dia sedang magang dan harus ke kantor, jadi nggak bisa mengantar ku ke bandara karena aku harus pulang ke Pontianak.


Ya, setahun lalu itu terakhir kalinya aku melihat senyumnya, memeluknya, dan menciumnya. Ternyata itu adalah perpisahan yang baru aku sadari saat ini. Adikku itu orang baik, baik banget. Dia itu anak yang polos, tulus, dan selalu diam kalau ada yang jahat ke dia. Selalu sabar bahkan ketika lagi sakit, dan nggak pernah ngeluh berlebihan. Padahal kita tahu dia pasti sedang menahan sakit. Orang yang selalu bisa diajak dan nemenin kakaknya kemana-mana, adik yang pengertian banget sama kakaknya yang belum bisa temuin dia karena kendala ekonomi. Waktu itu obat kami cuma bisa video call sambil nangis, karena kakaknya ini super cengeng. Sebaliknya, dia yang sakit justru nenangin aku yang sehat. Kalau inget momen itu aku selalu nangis.

Sampai detik terakhir dia ditutup dengan kain kafan dan dikubur aku nggak bisa lihat dan cium dia. Entah kenapa itu rasanya sakit banget. Semua orang yang datang dan lihat, katanya Riri seperti orang tidur, wajahnya bersih dan tersenyum. Mendengar hal itu, air mataku semakin deras keluar. Hal yang saat ini harus kami lakukan adalah mengikhlaskannya dan mendoakannya. Hanya itu yang bisa membuat dia bahagia. Kami sangat sangat menyayanginya, tapi Allah lebih menyayanginya dan nggak mau Riri terus-menerus kesakitan.

Banyak yang tanya juga, sebenarnya adikku sakit apa. Adikku itu menderita infeksi lambung akut. Aku nggak bisa menjelaskan banyak, memang sudah harus seperti itu jalannya. Semuanya terjadi begitu cepat. Sehari sebelum adikku meninggal pun aku masih bertukar pesan di whatsApp dengan dia. Makanya aku sangat syok mendengar dia meninggal dunia. Aku cuma mau berpesan buat teman-teman supaya bisa menjaga asupan makan dan jangan stress. Manusia hanya bisa mencegah, tetap semua tergantung kehendak Allah. Minta doanya buat almarhumah adikku ya teman-teman. :)

Sebagai orang yang beriman, kita percaya semua orang pasti akan kembali pada penciptanya. Seluruh makhluk hidup tanpa kecuali. Muda, tua, sakit, sehat, kaya, miskin, semuanya sama, termasuk kita. Mati itu hal yang pasti, hanya jalan ceritanya saja yang berbeda. Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan, karena semua sudah takdir. Jalan cerita Allah akan selalu menjadi rahasia untuk kita. Dunia ini hanya sementara, bahkan sebentar. Yang abadi itu adalah akhirat. Kita semua akan kekal di dalamnya. Pilihannya cuma surga atau neraka.

Ketika kehilangan seseorang yang meninggal dunia, sungguh sangat wajar jika bersedih, tapi tidak untuk diratapi terus menerus. Karena kita pun kelak akan pergi ke tempat mereka. Entah kapan, tidak ada yang tahu kecuali Allah. Yang sekarang harus kita lakukan adalah mempersiapkan untuk bekal di sana nanti. Ibadah, beramal, berbuat baik serta berdoa agar bisa dipertemukan dan dipersatukan kembali dengan orang tua, pasangan, adik, kakak, saudara atau sahabat-sahabat baik kita di Surga.

Awalnya pasti sakit, tapi pelan-pelan Allah akan membantu menguatkan dan meredakannya. Kita punya Allah, dan Allah akan selalu mendengar doa-doa kita. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua. Aamiin..



Sekarang udah nggak akan bisa foto bareng sama Riri lagi. :'(

“Riri ku sayang, sekarang Riri udah nggak sakit lagi, di sini Teh ia, Mama, Bapak, A fajar, Teh Fitri, A Iyal dan semuanya termasuk Agung akan selalu doain Riri di sana. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Riri, menempatkan Riri di tempat nyaman dan teduh di sisi Allah, semoga sakitnya Riri di dunia bisa menjadi pahala kebaikan di akhirat nanti. In syaa Allah nanti kita ketemu lagi ya sayang, jangan takut di sana, nanti kita semua nyusul Riri. Semoga doa-doa kita semua Allah sampaikan ke Riri. Bahagia di sana ya adikku sayang. I Love You!”

Dari semua cerita sedih ini, yang paling terpukul dan kehilangan pasti adalah seorang Ibu. Beliau mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Bahkan ada orang yang bilang lebih sakit orang tua yang kehilangan anak dari pada anak yang kehilangan orang tua. Tapi bagiku yang namanya kehilangan akan selalu menyakitkan, dan arti sebenarnya kehilangan bukan karena kita sakit karena kepergiannya, tapi karena kami rindu. Ya, sangat rindu. Hanya itu.


Ikhlas ya Mah, kita pasti kuat. Kita punya Allah. :')

Sebanyak apapun tangisan kami, adikku tak akan bisa kembali lagi. Saat ini, senyum yang kami tunjukkan adalah berusaha menutupi kesedihan mendalam kami. Sebisa mungkin kami tetap harus bisa bersyukur apapun keadaannya. Semua yang Allah berikan pasti ada hikmahnya. Semenjak kepergian Riri, aku jadi belajar bagaimana harus bisa lebih melindungi dan membahagiakan orang tua terutama Mama. Harus bisa lebih belajar arti di hidup sebenarnya dan harus semakin rajin lagi dalam beribadah. Kadang masih lalai sama sholat, masih absen baca Al-qur’an, dan masih banyak lagi. Aku merasa ini salah satu teguran bagi kami dan aku khususnya bahwa dunia hanya sementara.




Mungkin satu adikku sudah tiada, tapi Allah mengingatkan bahwa masih ada adikku yang lainnya, bahkan bertambah. Kita harus tetap ingat kalau ada orang-orang yang masih hidup dan membutuhkan senyum kita. Jangan sia-siakan waktu yang sempit ini dengan keterpurukan. Tapi isilah dengan hal-hal baik dan bermanfaat yang membuat kita bahagia dan membuat mereka yang pergi pun bahagia dengan cara yang berbeda. 

“Mereka yang mati itu tidak hilang, mereka tetap ada di alam lain. Hanya saja kita tidak dapat merasakan lagi wujudnya. Hanya kenangannya yang bisa kita simpan. Mereka akan tetap di hati selamanya, seperti udara, yang selalu ada, walaupun kita tidak dapat melihatnya. Tapi itu hanya sementara, ada waktunya semua akan berubah indah. Yang harus kita percaya, Allah akan menyatukan kita kembali di surga yang Abadi.”

Ini adalah foto terakhir yang aku ambil setahun sebelum kepergian Riri.

“Riri sayang, sering mampir di mimpi kami ya, kami akan selalu merindukanmu.”

“Tri Nurhayati Binti Arief Subroto, Al-Fatihah.”


You Might Also Like

0 komentar

Rhialitage